I Maga Daeng Rioso "Antara cinta dan tahta"
Mandar sebagai salah satu suku yang terletak di Sulawesi bagian Barat memiliki ceritah sejarah yang cukup panjang dimulai dari kedatangan manusia pertama di bumi mandar yakni Pongka Padang yang berasal dari Toraja, hingga munculnya kerajaan-kerajaan yang berada di hulu dan hilir sungai mandar.
Setidaknya ada empat belas kerajaan di mandar yang terbagi ke dalam dua kelompok yakni tujuh kerajaan di hulu sungai (Pitu ulunna salu) dan tujuh kerajaan di hilir sungai (Pitu ba'bana binanga). Hal ini didasarkan pada perjanjian di Luyo pada awal abad ke-XVI atau yang dikenal dengan Allamungan batu di Luyo (peletakan pertama dasar kesepakatan).
Berbicara tentang asal usul kata "Mandar", para sejarawan memiliki berbagai pandangan, sebut saja Alm. A. Syaiful sinrang, menuturkan bahwa "Mandar" berasal dari kata "Mandara'" yang memiliki arti cahaya.
Sedangkan menurut Darwis Hamzah, seorang budayawan mengatakan, "Mandar" berasal dari kata "Mandaq" yang artinya kuat.
Dalam perkembangannya, mandar tidak terlepas dari peranan kerajaan Balanipa yang menurut sejarawan Zainal Abidin Farid berdiri pada abad ke-IX sebagaimana yang bersumber dari naskah La Galigo.
Namun setelah pada suatu ketika timbul kekacauan berlarut-larut yang sulit diatasi, seorang Mara'dia yang tak lain adalah keturunan dari Tomakaka Napo bernama I Manyambungi mampu meredam kekacauan tersebut sekaligus bisa memulihkan keadaan seperti semula, sehingga atas keberhasilannya itu ia diangkat menjadi raja pertama di Balanipa.
Maka mulailah saat itu diadakan perhitungan yang baru tentang awal berdirinya Kerajaan Balanipa di Mandar yang diperkirakan terjadi pada permulaan abad XVI hampir bersamaan dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumappa'risi Kalonna (1511-1547)," kata Sumedi mengutip Profesor Zainal Abidin Farid.
Sejarah mencatat, kerajaan Balanipa pernah mengalami masa krisis saat invansi yang dilakukan oleh kerajaan Bone dibawah pimpinan Arung palakka.
Saat kerajaan telah diambang kehancuran, Maraqdia di Langanna selaku Raja di Balanipa berkata "Berjuanglah untuk tanah airmu, barang siapa yang berhasil mengusir Bone dari Balanipa, maka dialah yang akan menjadi pemimpin dan saya akan turun tahta.
Dari sinilah muncul sosok penyelamat kerajaan Balanipa, yakni I Maga Daeng Rioso. Yang pada waktu itu menjadi Maraqdia malolo (panglima kerajaan).
Dalam lontara Pattodiolong di mandar disebutkan, Bone menyerang Balanipa hingga Balanipa dipukul mundur ke daerah pantai Napo. Berkata I Maga Daeng Rioso kepada para tentaranya "majulah kemari, kita bersatu, kapan juga kita pasti mati". Tetapi tak ada yang mau dipanggil, hanya Tomatindo di Sallombok, bergelar Todipossok di Malaujung dan dua temannya yang berani menemani daeng Riosok bersama menyerang hingga ke pantai. Disana Maraqdia Banggae gugur. Berkata daeng Riosok "jangan dulu kau ambil mayatnya puammu, karena saya sudah saling berjanji habis-habisan bersama dalam tempo sehari ini, terlanjur saya berjanji untuk sehidup semati".
Dengan kegigihan dan keberaniannya, Daeng Rioso akhirnya berhasil memukul balik Arung Palakka beserta para tentaranya juga kerajaan Gowa yang menjadi sekutu kerajaan Bone.
Setelah invansi Bone berhasil dihalau, Daeng Rioso naik tahta menjadi Maraqdia Balanipa (raja balanipa) setelah Maraqdia di Langanna turun tahta.
Pencapaian dalam menduduki jabatan raja Balanipa sangat cemerlang, dimana Daeng Rioso menghantar Balanipa ke titik kejayaannya.
Terbukti bahwa Balanipa sudah mulai melakukan hubungan baik dengan kerajaan Bone dan Gowa yang dulunya menjadi musuh bebuyutan Balanipa.
Namun di sisi lain, akhir hidup dari Daeng Rioso sangat mengenaskan. Ia harus mati karena dipenggal kepalanya oleh Paliliq Aruwa. Itulah kenapa Daeng Rioso memiliki gelar "Todipolong".
Keperkasaan dan keberaniannya sebagai panglima perang yang ditakuti, seketika luntur karena seorang perempuan.
Ini berawal saat Daeng Rioso berkunjung ke kerajaan Pamboang dan mendapati I Pura Paraqbue yang merupakan permaisuri raja Pamboang.
Kecantikan yang menawan dari I Pura Paraqbue berhasil memikat hati Daeng Rioso. Hingga raja Balanipa ini berencana untuk menculik I Pura Paraqbue.
Kejadian ini bermula disaat raja pamboang beserta para pengawalnya berburu di hutan dan meninggalkan I Pura Paraqbue di kerajaan. Saat itulah Daeng Rioso dengat siasatnya berhasil menculik Paraqbue dan membawanya ke Balanipa.
Setelah mengetahui permaisuri yang dicintanya diculik oleh sahabatnya sendiri, raja Pamboang kemudian meminta bantuan kepada maraqdia sendana yang merupakan ayah dari I Pura Paraqbue.
Berita ini kemudian tersebar di seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Pitu Ba'bana Binanga bahkan sampai ke tujuh kerajaan di pitu ulunna salu.
Kemudian raja pamboang dan raja sendana mengadakan pertemuan dengan kerajaan lain di pitu ba'bana binanga. Hingga sampailah pada kesepekatan dimana enam kerajaan akan bekerja sama untuk memenggal kepala raja Balanipa di daerah Marica.
Dan di akhir hidipnya, Daeng Rioso digelar "Tomatindo di Marica".
Banyak para sejarawan sangat tertarik dengan kisah I Maga Daeng Rioso, dimana keberanian dan keperkasaannya serta wibawanya sebagai seorang raja, harus hancur karena seorang perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar