"Revolusi agrikiltur, lompatan berpikir manusia"
Secacara sederhana, revolusia artinya perubahan besar dalam kehidupan manusia. Di era milenial sekarang ini, mungkin kita sering mendengar istilah revolusi 4.0 atau dapat pula diartikan revolusi teknologi.
Namun jauh sebelum itu, bahkan puluhan ribu tahun yang lalu, manusia telah mengalami revolusi besar yang mempengaruhi pola kehidupan, yakni revolusi agrikultur yang merupakan revolusi kebudayaan pertama umat manusia.
Selama kurang lebih 2,5 juta tahun, manusia menghidupi diri dengan mengumpulkan tumbuhan dan memburu binatang sebagi pemenuhan kebutuhan makan mereka. Tetapi semuanya berubah sekitar 11.000 tahun yang lalu ketika manusia sudah mulai menghabiskan waktu mereka untuk memanipulasi kehidupan berbagai spesies binatang dan tumbuhan. Dimana dari terbit sampai terbenamnya matahari, manusia menabur benih, menyirami tanaman, menggiring domba ke padang rumput terbaik. Bagi mereka pekerjaan ini akan menjadikan lebih banyak buah, biji-bijian dan daging. Itulah revolusi kehidupan manusia - Revolusi Agrikultur.
Transisi ke pertanian dimulai di negeri perbukitan Turki bagian tenggara, Iran barat, dan di wilayah Levant. Yang menurut para arkeolog, gandum dan kambing adalah yang pertamakali didomestikkan oleh manusia kurang lebih 11.000 tahun yang lalu.
Selama dua milenium, revolusi agrikultur kemudian meletus di empat penjuru dunia. Namun para ahli sepakat bahwa pertanian mengeruak di berbagai wilayah dunia bukan karena para petani timur tengah melainkan ini terjadi secara independen. Dan hingga pada abad ke 1 SM, mayoritas penduduk dunia adalah agrikulturalis.
Sekarang mungkin kita menganggap bahwa revolusi agrikultur adalah lompatan menuju manusia. Yang secara perlahan menghasilkan orang-orang yang pintar sehingga mereka mampu menguak rahasia alam, memungkinkan mereka untuk meninggalkan kehidupan yang melelahkan, berbahaya, dan sering spartan sebagai pemburu penjelajah, menjadi orang-orang yang tinggal menetap menikmati kehidupan sebagai petani.
Tapi sejatinya dongeng itu adalah fantasi. Tak ada bukti bahwa manusia benar-benar menjadi lebih pintar. Bahkan kalau kita bandingkan, para pemburu penjelajah jauh lebih mengetahui rahasia-rahasia alam karena mereka hidup dan bergantung kepada pengetahuan mereka tentang tumbuhan dan binatang yang mereka kumpulkan.
Memang, revolusi agrikultur memperbesar jumlah total makanan yang dileroleh, tetapi makanan ekstra tidak dapat didefenisikan sebagai menu yang sehat. Yang terjadi justru menghasilkan ledakan populasi dan elite-elite manja. Sehingga tidak keliru apabila dikatakan bahwa revolusi agrikultur adalah kecurangan terbesar dalam sejarah.
Siapa yang disalahkan? apakah raja, pedagang, petani? Bukan. Yang patut disalahkan adalah segelintir spesies tumbuhan termasuk gandum, padi, kentang. Tumbuhan-tumbuhan ini mendomestikkan Homo Sapiens. Bukan sebaliknya.
Bagaimana gandum dapat meyakinkan Homo Sapiens untuk menukar pola kehidupan mereka (sapiens)? Apa imbalan yang diberikan? Ia justru tidak memberi makanan yang lebih bagus. Ingat, manusia adalah omnivora yang tumbuh dengan ragam luas makanan. Biji-bijian hanya menyumbang kecil makanan bagi manusia pra revolusi agrikultur, dan ini benar-benar buruk bagi gigi dan gusi. Mungkin tak seorang pun yang setuju dengan pernyataan ini: "Revolusi agrikultur adalah sebuah perangkap".