Kamis, 15 Agustus 2019

"Revolusi agrikiltur, lompatan berpikir manusia"
   Secacara sederhana, revolusia artinya perubahan besar dalam kehidupan manusia. Di era milenial sekarang ini, mungkin kita sering mendengar istilah revolusi 4.0 atau dapat pula diartikan revolusi teknologi.
   Namun jauh sebelum itu, bahkan puluhan ribu tahun yang lalu, manusia telah mengalami revolusi besar yang mempengaruhi pola kehidupan, yakni revolusi agrikultur yang merupakan revolusi kebudayaan pertama umat manusia.
   Selama kurang lebih 2,5 juta tahun, manusia menghidupi diri dengan mengumpulkan tumbuhan dan memburu binatang sebagi pemenuhan kebutuhan makan mereka. Tetapi semuanya berubah sekitar 11.000 tahun yang lalu ketika manusia sudah mulai menghabiskan waktu mereka untuk memanipulasi kehidupan berbagai spesies binatang dan tumbuhan. Dimana dari terbit sampai terbenamnya matahari, manusia menabur benih, menyirami tanaman, menggiring domba ke padang rumput terbaik. Bagi mereka pekerjaan ini akan menjadikan lebih banyak buah, biji-bijian dan daging. Itulah revolusi kehidupan manusia - Revolusi Agrikultur.
   Transisi ke pertanian dimulai di negeri perbukitan Turki bagian tenggara, Iran barat, dan di wilayah Levant. Yang menurut para arkeolog, gandum dan kambing adalah yang pertamakali didomestikkan oleh manusia kurang lebih 11.000 tahun yang lalu.
   Selama dua milenium, revolusi agrikultur kemudian meletus di empat penjuru dunia. Namun para ahli sepakat bahwa pertanian mengeruak di berbagai wilayah dunia bukan karena para petani timur tengah melainkan ini terjadi secara independen. Dan hingga pada abad ke 1 SM, mayoritas penduduk dunia adalah agrikulturalis.
Sekarang mungkin kita menganggap bahwa revolusi agrikultur adalah lompatan menuju manusia. Yang secara perlahan menghasilkan orang-orang yang pintar sehingga mereka mampu menguak rahasia alam, memungkinkan mereka untuk meninggalkan kehidupan yang melelahkan, berbahaya, dan sering spartan sebagai pemburu penjelajah, menjadi orang-orang yang tinggal menetap menikmati kehidupan sebagai petani.
   Tapi sejatinya dongeng itu adalah fantasi. Tak ada bukti bahwa manusia benar-benar menjadi lebih pintar. Bahkan kalau kita bandingkan, para pemburu penjelajah jauh lebih mengetahui rahasia-rahasia alam karena mereka hidup dan bergantung kepada pengetahuan mereka tentang tumbuhan dan binatang yang mereka kumpulkan.
   Memang, revolusi agrikultur memperbesar jumlah total makanan yang dileroleh, tetapi makanan ekstra tidak dapat didefenisikan sebagai menu yang sehat. Yang terjadi justru menghasilkan ledakan populasi dan elite-elite manja. Sehingga tidak keliru apabila dikatakan bahwa revolusi agrikultur adalah kecurangan terbesar dalam sejarah.
Siapa yang disalahkan? apakah raja, pedagang, petani? Bukan. Yang patut disalahkan adalah segelintir spesies tumbuhan termasuk gandum, padi, kentang. Tumbuhan-tumbuhan ini mendomestikkan Homo Sapiens. Bukan sebaliknya.
   Bagaimana gandum dapat meyakinkan Homo Sapiens untuk menukar pola kehidupan mereka (sapiens)? Apa imbalan yang diberikan? Ia justru tidak memberi makanan yang lebih bagus. Ingat, manusia adalah omnivora yang tumbuh dengan ragam luas makanan. Biji-bijian hanya menyumbang kecil makanan bagi manusia pra revolusi agrikultur, dan ini benar-benar buruk bagi gigi dan gusi. Mungkin tak seorang pun yang setuju dengan pernyataan ini: "Revolusi agrikultur adalah sebuah perangkap".

Senin, 09 April 2018

I Maga Daeng Rioso "Antara cinta dan tahta"

I Maga Daeng Rioso "Antara cinta dan tahta"

Mandar sebagai salah satu suku yang terletak di Sulawesi bagian Barat memiliki ceritah sejarah yang cukup panjang dimulai dari kedatangan manusia pertama di bumi mandar yakni Pongka Padang yang berasal dari Toraja, hingga munculnya kerajaan-kerajaan yang berada di hulu dan hilir sungai mandar.

Setidaknya ada empat belas kerajaan di mandar yang terbagi ke dalam dua kelompok yakni tujuh kerajaan di hulu sungai (Pitu ulunna salu) dan tujuh kerajaan di hilir sungai (Pitu ba'bana binanga). Hal ini didasarkan pada perjanjian di Luyo pada awal abad ke-XVI atau yang dikenal dengan Allamungan batu di Luyo (peletakan pertama dasar kesepakatan).

Berbicara tentang asal usul kata "Mandar", para sejarawan memiliki berbagai pandangan, sebut saja Alm. A. Syaiful sinrang, menuturkan bahwa "Mandar" berasal dari kata "Mandara'" yang memiliki arti cahaya. 
Sedangkan menurut Darwis Hamzah, seorang budayawan mengatakan, "Mandar" berasal dari kata "Mandaq" yang artinya kuat.

Dalam perkembangannya, mandar tidak terlepas dari peranan kerajaan Balanipa yang menurut sejarawan Zainal Abidin Farid berdiri pada abad ke-IX sebagaimana yang bersumber dari naskah La Galigo.

Namun setelah pada suatu ketika timbul kekacauan berlarut-larut yang sulit diatasi, seorang Mara'dia yang tak lain adalah keturunan dari Tomakaka Napo bernama I Manyambungi mampu meredam kekacauan tersebut sekaligus bisa memulihkan keadaan seperti semula, sehingga atas keberhasilannya itu ia diangkat menjadi raja pertama di Balanipa.

Maka mulailah saat itu diadakan perhitungan yang baru tentang awal berdirinya Kerajaan Balanipa di Mandar yang diperkirakan terjadi pada permulaan abad XVI hampir bersamaan dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumappa'risi Kalonna (1511-1547)," kata Sumedi mengutip Profesor Zainal Abidin Farid.

Sejarah mencatat, kerajaan Balanipa pernah mengalami masa krisis saat invansi yang dilakukan oleh kerajaan Bone dibawah pimpinan Arung palakka.

Saat kerajaan telah diambang kehancuran, Maraqdia di Langanna selaku Raja di Balanipa berkata "Berjuanglah untuk tanah airmu, barang siapa yang berhasil mengusir Bone dari Balanipa, maka dialah yang akan menjadi pemimpin dan saya akan turun tahta.

Dari sinilah muncul sosok penyelamat kerajaan Balanipa, yakni I Maga Daeng Rioso. Yang pada waktu itu menjadi Maraqdia malolo (panglima kerajaan).

Dalam lontara Pattodiolong di mandar disebutkan, Bone menyerang Balanipa hingga Balanipa dipukul mundur ke daerah pantai Napo. Berkata I Maga Daeng Rioso kepada para tentaranya "majulah kemari, kita bersatu, kapan juga kita pasti mati". Tetapi tak ada yang mau dipanggil, hanya Tomatindo di Sallombok, bergelar Todipossok di Malaujung dan dua temannya yang berani menemani daeng Riosok bersama menyerang hingga ke pantai. Disana Maraqdia Banggae gugur. Berkata daeng Riosok "jangan dulu kau ambil mayatnya puammu, karena saya sudah saling berjanji habis-habisan bersama dalam tempo sehari ini, terlanjur saya berjanji untuk sehidup semati". 

Dengan kegigihan dan keberaniannya, Daeng Rioso akhirnya berhasil memukul balik Arung Palakka beserta para tentaranya juga kerajaan Gowa yang menjadi sekutu kerajaan Bone.

Setelah invansi Bone berhasil dihalau, Daeng Rioso naik tahta menjadi Maraqdia Balanipa (raja balanipa) setelah Maraqdia di Langanna turun tahta.

Pencapaian dalam menduduki jabatan raja Balanipa sangat cemerlang, dimana Daeng Rioso menghantar Balanipa ke titik kejayaannya.

Terbukti bahwa Balanipa sudah mulai melakukan hubungan baik dengan kerajaan Bone dan Gowa yang dulunya menjadi musuh bebuyutan Balanipa.

Namun di sisi lain, akhir hidup dari Daeng Rioso sangat mengenaskan. Ia harus mati karena dipenggal kepalanya oleh Paliliq Aruwa. Itulah kenapa Daeng Rioso memiliki gelar "Todipolong".

Keperkasaan dan keberaniannya sebagai panglima perang yang ditakuti, seketika luntur karena seorang perempuan.
Ini berawal saat Daeng Rioso berkunjung ke kerajaan Pamboang dan mendapati I Pura Paraqbue yang merupakan permaisuri raja Pamboang.

Kecantikan yang menawan dari I Pura Paraqbue berhasil memikat hati Daeng Rioso. Hingga raja Balanipa ini berencana untuk menculik I Pura Paraqbue.

Kejadian ini bermula disaat raja pamboang beserta para pengawalnya berburu di hutan dan meninggalkan I Pura Paraqbue di kerajaan. Saat itulah Daeng Rioso dengat siasatnya berhasil menculik Paraqbue dan membawanya ke Balanipa.

Setelah mengetahui permaisuri yang dicintanya diculik oleh sahabatnya sendiri, raja Pamboang kemudian meminta bantuan kepada maraqdia sendana yang merupakan ayah dari I Pura Paraqbue.

Berita ini kemudian tersebar di seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Pitu Ba'bana Binanga bahkan sampai ke tujuh kerajaan di pitu ulunna salu.

Kemudian raja pamboang dan raja sendana mengadakan pertemuan dengan kerajaan lain di pitu ba'bana binanga. Hingga sampailah pada kesepekatan dimana enam kerajaan akan bekerja sama untuk memenggal kepala raja Balanipa di daerah Marica. 

Dan di akhir hidipnya, Daeng Rioso digelar "Tomatindo di Marica".

Banyak para sejarawan sangat tertarik dengan kisah I Maga Daeng Rioso, dimana keberanian dan keperkasaannya serta wibawanya sebagai seorang raja, harus hancur karena seorang perempuan.







Rabu, 28 Maret 2018

Karakteristik islam Indonesia

     Karakteristik islam Indoensia

Oleh Nurul Akbar

Islam di Indonesia memiliki watak dan karakteristik yang khas, dan berbeda dengan islam di kawasan lain, khususnya di timur tengan yang merupakan jantung dunia muslim.
Hal ini disebabkan oleh adanya proses adaptasi dengan kondisi lokal sehingga membentuk dinamika islam yang khas.
Azyumardy Azra menyebutkan bahwa watak islam di Indonesia pada dasarnya lebih damai, ramah dan toleran. Azyumardi menambahkan hal ini terjadi karena perbedaan metode penyebaran islam di Indonesia dan wilayah lainnya seperti di Afrika, Eropa dan lain-lain, yang disebut "FUTUH" atau "pembebasan" yang dalam praktiknya sering menggunakan kekuatan militer.
Sebagai contoh, perebutan konstantinopel oleh kaum muslimin dibawah pimpinan Muhammad Al-fatih. Dalam peperangan ini, selain untuk menguasai konstantinopel yang menjadi pusat perdagangan pada waktu itu, tujuan lainnya juga adalah untuk menyebarkan agama islam. Dimana kosntantinopel pada abad ke 15 juga menjadi salah satu pusat agama kristiani.
Hal ini sangat jauh berbeda dengan penyebaran islam di Indonesia pada khususnya dan Asia Tenggara pada umumnya yang dilakukan secara damai dan tidak pernah disebut FUTUH, sehingga memunculkan konsekuensi yang disebut Azyumardy Azra sebagai "Islam Indonesia yang jinak, damai dan toleran", atau bahkan sangat "Akomodatif" terhadap kepercayan, praktik keagamaan, tradisi dan budaya lokal.
Hal ini apabila dilihat dari sudut pandang sejarah, bahwa dalam penyebaran agama islam yang dilakukan oleh para pedagang maupun para Wali baik terhimpun di dalam Wali Songo, maupun yang tidak, mereka menyebarkan islam melalui pendekatan kebudayaan Nusantara. 
Misalnya saja Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Maulana Makhdum Ibrahim Asmara, menyebarkan islam dengan menggunakan alat musik Bonang (alat musik khas jawa) yang sampai sekarang masih dapat disaksikan. Juga beliau menciptakan lagu yang sampai sekarang masih sering diperdengarkan yakni "Tomba Ati".
Kemudian juga Sunan Kalijaga, yang dalam penyebaran agamanya menggunakan pendekatan kebudayaan seperti seni wayang purwa yang pada awalnya menceritakan kisah Mahabarata dan Ramayana, namun oleh Sunan Kalijaga dijadikan wayang ini sebagai alat penyebaran islam.
Dan masih banyak lagi metode yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan islam di Nusantara. Sehingga tidak heran apabila dalam perkembangannya, islam sangat erat dengan kebudayaan masyarakat Nusantara. 
Jadi dalam memandang peristiwa sejarah ini, maka tidak heran apabila kita melihat banyak sekali perbedaan antara kebudayaan islam di Timur tengah dengan kebudayaan islam di Nusantara, karena itu tadi, dalam proses penyebarannya memang menggunakan pendekatan kebudayaan.
Intinya bahwa islam di Indonesia memberikan contoh yang baik bagaimana sebuah agama dapat berkembang dam masyarakat yang plural dan multi etnis. Di tengah-tengah perbedaan itu, islam di Indonesia mengadopsi budaya lokal untuk memperkaya khasanah pengalaman keislamannya. Sehingga tidak mengherankan jika islam di Indonesia mempunyai variasi karakter keislaman yang khas; ada Aceh, jawa, bugis, mandar, Banten, sunda dan lain sebagainya.

Selasa, 27 Maret 2018

Assalamualaikum wr.wb.

Karena ini adalah postingan pertamaku di blog yang kubuat kira-kira 5 menit yang lalu, jadi alangkah indahnya kalau aku memperkenalkan diri dulu kepada teman-teman yang sempat membaca tulisan yang cukup buruk ini. -maklum, baru belajar nulis. Hehe-.
Sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah lama, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak rindu, tak rindu maka tak merasa kehilangan. Karena itu, hemat saya bahwa puncak dari perkenalan adalah merasa kehilangan.
Oke, langsung saja perkenalannya.
Pertama aku adalah manusia, sama seperti teman-teman. Dulu saat masih bayi kalau tidak salah ingat, aku diberi nama Nurul Akbar yang kira-kira artinya cahaya yang besar. Namun entah kenapa, orang-orang di kampung memanggilku dengan nama Ade. Bahkan semua adikku, juga memanggilku dengan nama itu.
Mungkin kalian bingung, sama, aku juga. Tapi sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan.
Oke kita lanjut.
Dari arti namaku yang cukup indah, -kalau kalian tidak setuju, ya tidak apa-apa.-Sepertinya kedua orang tuaku ingin aku menjadi seseorang yang mampu memberikan cahaya kepada sesama manusia. Asik. Hihi
Aku lahir di salah satu desa yang terletak di bagian utara ibu kota provinsi Sulawesi Barat yakni Mamuju.
Kalau tidak salah ingat lagi, itu terjadi pada hari minggu tanggal 16 Agustus 1998. Tepatnya sehari sebelum ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 54 tahun yang diperingati setiap 17 Agustus.
Jadi setiap kali peringatan kemerdekaan, bagiku seolah-olah semua orang juga memperingati hari kelahiranku. Ataukah mungkin hanya interpretasiku yang terlalu tinggi? Ah, tak apa, itu hakku. Hehe.
Aku lahir dari seorang ibu bernama Fatmawati yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, aku memanggilnya mama.
Ayahku bernama M. Idrus, bekerja sebagai petani, dan kadang juga mengembala kambing dan sapi.
Sungguh, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada mereka berdua yang sudah menjaga, merawat dan membesarkan aku sampai seperti sekarang ini. Semoga kasih sayang Tuhan senantiasa dilimpahkan kepada mereka berdua. Amin.
Ayah dan ibuku berhasil membuat keturunan sebanyak 6 orang. Empat orang laki-laki dan dua orang perempuan. Aku merupakan anak ke 3. Berarti kakakku ada dua, adikku ada tiga. Tapi kakakku yang pertama sudah lebih dulu kembali kepada pemilikNya. Semoga dia diberikan tempat bersama orang-orang yang mencintaiNya dan dicintaiNya.
Mungkin aku tidak usah terlalu banyak membahas bagaimana kehidupanku saat masih kecil. Intinya, itu adalah masa dimana aku merasakan seperti apa indahnya jalan setapak yang dipenuhi dengan pohon rindang. Masa dimana aku belajar naik sepeda sampai sempat terjatuh di got. Masa dimana aku tidak berani pulang ke rumah karena muka ku babak belur dikeroyok oleh teman-temanku yang marah karena selalu kalah main kelereng. Itu adalah hal yang lumrah untuk anak kecil yang belum tahu bahwa menang bukanlah segalanya, dan kalah pun bukan perbuatan dosa.
Iya, itu adalah masa yang indah. Yang mungkin sebagian besar teman-teman juga akan sepakat.
Kalau boleh jujur, aku sangat rindu dengan segala hal yang terjadi pada waktu itu.
Sekarang usiaku sudah 20 tahun,  dan kuliah di salah satu universitas negeri di Makassar mengambil jurusan yang kata sebagian orang adalah jurusan bagi mereka yang tidak bisa move on dari masa lalu. Ya, Sejarah. Tepatnya pendidikan sejarah, fakultas ilmu sosial.
Bicara tentang riwayat pendidikan, aku menyelesaikan program sekolah dasar di SDN 01 Kabuloang. Alhamdulillah selesai dalam waktu 6 tahun dan memperoleh nilai ijazah yang baik. Juga menjadi lulusan terbaik di sekolahku.
Seperti dengan teman-temanku yang lain, aku juga melanjutkan pendidikan di SMPN 8 Kalukku yang sekarang sudah berubah menjadi SMPN 3 Kalukku. Tapi hanya kurang lebih 3 bulan aku bersekolah disana, aku kemudian pindah ke SMPN 4 Malunda yang terletak di kabupaten Majene.
Setelah menyelesaikan study di SMP 4 Malunda, kurang lebih 3 tahun dan juga mendapat nilai ijazah yang baik, walaupun bukan yang terbaik, aku kembali ke kampung halaman dan memilih untuk melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Kalukku yang merupakan sekolah unggulan di kecamatan Kalukku khususnya dan di kabupaten Mamuju secara umumnya.
Dan di SMA inilah kurasakan pertama kali artinya menyukai seorang perempuan. Tapi, itu bukan hal yang bagus untuk aku bahas. Ya, kalian mengertilah maksudku.
Saat SMA, aku mengambil jurusan IPS. Karena sekolahku menggunakan kurikulum 2013, IPS kemudian diganti menjadi IIS (Ilmu-ilmu Sosial).
Aku ditempatkan di kelas IIS 2, dan dipercayakan menjadi ketua kelas. Atau biasanya teman-teman menyebutku kepala suku.
Setelah satu tahun lebih menempuh pendidikan di SMA 1 Kalukku, tepatnya kelas 2, aku memberanikan untuk mencalon sebagai ketua OSIS periode 2014-2015.
Mengejutkan, dari sekian pasangan calon yang mendaftar, ternyata aku memperoleh suara terbanyak dari hasil pungutan suara oleh lebih dari seribu siswa.
Entah apa yang terbesit di pikiran para siswa untuk memilihku menjadi ketua osis. Seorang siswa yang beberapa kali diusir dari kelas oleh guru karena terlalu cerewet. Siswa yang sering galau karena beberapa kali dipatahkan hatinya oleh perempuan.
Olehnya, aku ingin mengucapkan terimakakasih kepada teman-teman yang dulu mempercayakan tugas ketua osis kepadaku.
Sebenarnya aku masih mau cerita, cuman untuk sekedar perkenalan, kurasa ini sudah cukup. Oiya, sekedar informasi aku lulus tahun 2016 dengan nilai ijazah yang baik, namun lagi-lagi bukan yang terbaik.
Masa kuliahku, tidak perlu kuceritakan, karena masih dalam proses. Aku hanya minta doa dari teman-teman semoga di tahun 2020 nanti, aku bisa menyelesaikan study dan mendapat gelar S.Pd serta bisa terus belajar dimanapun itu sampai mendapat gelar tertinggi manusia, Alm.

Jadi nanti di blog ini, aku hanya akan membahas seputar sejarah saja, karena itu sesuai dengan fokus ilmuku. Mungkin juga sesekali akan menulis tentang sajak-sajak yang aku yakin akan membuat teman-teman baper sampai laper.
Terimakasih karena sudah menyempatkan waktunya membaca tulisanku yang tidak penting ini.

Salam...a

Makassar, 26 Maret 2018.

"Revolusi agrikiltur, lompatan berpikir manusia"    Secacara sederhana, revolusia artinya perubahan besar dalam kehidupan manus...