Karakteristik islam Indoensia
Oleh Nurul Akbar
Islam di Indonesia memiliki watak dan karakteristik yang khas, dan berbeda dengan islam di kawasan lain, khususnya di timur tengan yang merupakan jantung dunia muslim.
Hal ini disebabkan oleh adanya proses adaptasi dengan kondisi lokal sehingga membentuk dinamika islam yang khas.
Azyumardy Azra menyebutkan bahwa watak islam di Indonesia pada dasarnya lebih damai, ramah dan toleran. Azyumardi menambahkan hal ini terjadi karena perbedaan metode penyebaran islam di Indonesia dan wilayah lainnya seperti di Afrika, Eropa dan lain-lain, yang disebut "FUTUH" atau "pembebasan" yang dalam praktiknya sering menggunakan kekuatan militer.
Sebagai contoh, perebutan konstantinopel oleh kaum muslimin dibawah pimpinan Muhammad Al-fatih. Dalam peperangan ini, selain untuk menguasai konstantinopel yang menjadi pusat perdagangan pada waktu itu, tujuan lainnya juga adalah untuk menyebarkan agama islam. Dimana kosntantinopel pada abad ke 15 juga menjadi salah satu pusat agama kristiani.
Hal ini sangat jauh berbeda dengan penyebaran islam di Indonesia pada khususnya dan Asia Tenggara pada umumnya yang dilakukan secara damai dan tidak pernah disebut FUTUH, sehingga memunculkan konsekuensi yang disebut Azyumardy Azra sebagai "Islam Indonesia yang jinak, damai dan toleran", atau bahkan sangat "Akomodatif" terhadap kepercayan, praktik keagamaan, tradisi dan budaya lokal.
Hal ini apabila dilihat dari sudut pandang sejarah, bahwa dalam penyebaran agama islam yang dilakukan oleh para pedagang maupun para Wali baik terhimpun di dalam Wali Songo, maupun yang tidak, mereka menyebarkan islam melalui pendekatan kebudayaan Nusantara.
Misalnya saja Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Maulana Makhdum Ibrahim Asmara, menyebarkan islam dengan menggunakan alat musik Bonang (alat musik khas jawa) yang sampai sekarang masih dapat disaksikan. Juga beliau menciptakan lagu yang sampai sekarang masih sering diperdengarkan yakni "Tomba Ati".
Kemudian juga Sunan Kalijaga, yang dalam penyebaran agamanya menggunakan pendekatan kebudayaan seperti seni wayang purwa yang pada awalnya menceritakan kisah Mahabarata dan Ramayana, namun oleh Sunan Kalijaga dijadikan wayang ini sebagai alat penyebaran islam.
Dan masih banyak lagi metode yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan islam di Nusantara. Sehingga tidak heran apabila dalam perkembangannya, islam sangat erat dengan kebudayaan masyarakat Nusantara.
Jadi dalam memandang peristiwa sejarah ini, maka tidak heran apabila kita melihat banyak sekali perbedaan antara kebudayaan islam di Timur tengah dengan kebudayaan islam di Nusantara, karena itu tadi, dalam proses penyebarannya memang menggunakan pendekatan kebudayaan.
Intinya bahwa islam di Indonesia memberikan contoh yang baik bagaimana sebuah agama dapat berkembang dam masyarakat yang plural dan multi etnis. Di tengah-tengah perbedaan itu, islam di Indonesia mengadopsi budaya lokal untuk memperkaya khasanah pengalaman keislamannya. Sehingga tidak mengherankan jika islam di Indonesia mempunyai variasi karakter keislaman yang khas; ada Aceh, jawa, bugis, mandar, Banten, sunda dan lain sebagainya.